Do what you love or love what you do, lakukan apa yang kau cintai atau cintai apa yang kau lakukan. Tidak semua orang di semesta ini mendapatkan kesempatan yang langka seperti yang dimiliki seorang David Beckham atau Cristiano Ronaldo yang berkarir sesuai dengan hobi dan kecintaannya. Sementara banyak motivator mendorong kita untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan kesukaan kita, bagi sebagian orang, bekerja sesuai dengan hobi dan kesukaannya adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin dilakukan. Mustahil!

 

Namun, barangkali mereka lupa bahwa masih ada potongan kalimat : OR LOVE WHAT YOU DO (ATAU CINTAI APA YANG KAU LAKUKAN). Bagi mereka yang tidak berkesempatan bekerja sesuai dengan hobi dan kesukaannya, selalu masih ada harapan untuk bersinar. Mulailah belajar mencintai apa yang kau kerjakan. Lakukan saja apa yang kamu kerjakan. Jika mengeluh lebih banyak daripada menikmati, artinya ada sesuatu yang salah. TINGGALKAN!

 

Setiap orang bebas berkarya. Tapi pada akhirnya, hanya orang-orang yang memiliki rasa cinta pada apa yang dilakukannya, yang sebenarnya sedang membuat perubahan, baik besar maupun kecil.

 

Semoga penggalan kisah ini menginspirasi anak-anak muda yang belum berkesempatan menggapai impiannya, bahkan mungkin merasa putus harapan untuk bermimpi besar. Mulai sekarang cobalah untuk bermimpi seenak-enaknya, karena mimpi bukan sesuatu yang hanya bisa dimiliki si kaya. Ia adalah anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa yang dapat diterima oleh siapapun yang berani mengejarnya.

*

Kekayaan modal jauh dari gambaran dirinya. Tamatan STM yang sehari-hari mengisi kesibukannya dengan menjadi kenek truk ekspedisi. Tetapi semangatnya luar biasa. Matanya lapar akan dunia yang baru, yang lebih. Suatu hari pecahlah percakapan berikut :

“Kamu mau mencoba menerima tantangan saya?”

“Apa?”

“Keluar dari pekerjaanmu yang sekarang. Ajukan pengunduran diri lalu berhenti secara baik-baik. Lalu bergabunglah dengan kami.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Kamu akan banyak belajar tentang mekanik, dasar ilmu Fisika, dan kamu harus berkontribusi terhadap sasaran kita tahun ini.”

“Apa itu?”

“Menjadi pelopor naiknya standar pelayanan di dunia bisnis kita ini.”

“Apa saya sanggup?”

“Kalau kamu sanggup, saya janjikan kamu kehidupan yang lebih baik. Bahkan barangkali mencapai potongan mimpi yang bahkan kamu sendiri belum pernah impikan. Tetapi, saya tidak akan mengasihanimu. Kamu gagal, kamu keluar. Pertimbangkan bahwa kamu telah berkeluarga, memiliki anak dan istri. Kegagalanmu di sini mungkin saja merusak roda ekonomi keluarga kecilmu. Tetapi apakah kamu mau selamanya bermain aman dengan pekerjaanmu sekarang? Tidak ingin mencoba tantangan baru? Atau kamu cukup berani bertaruh lalu berjuang bersama?”

 

Anak muda itu berpikir keras, malamnya ia memutuskan untuk menerima tantangan saya hingga tibalah hari pertama ia masuk bekerja sebagai bagian dari kami. Saya ingat betul ketika ia mencoba bergerak ekstra dua kali lipat dibanding seniornya. Sementara kami datang ke kantor pukul 07.00 atau pukul 07.30, ia sudah siap di depan kantor sejak pukul 06.30. Mengawali kegiatannya dengan membantu membersihkan seluruh area kantor MESKI itu bukanlah pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Di sela waktu senggangnya ia mulai mempelajari bisnis perusahaan kami mulai dari kultur bisnis, produk, hingga memasuki ilmu dasar Fisika yang tidak pernah ia kuasai, sedikitpun!

 

Kecepatan tumbuh kembangnya cukup mengesankan. Ia berhasil melampaui salah satu seniornya yang akhirnya justru berbalik menjadi juniornya. Mengapa bisa demikian? Dalam perusahaan kami, senioritas tidak diukur dari seberapa lama seseorang bekerja di dalam perusahaan, tetapi seberapa banyak monumen kontribusi yang telah diberikan. Akhirnya, untuk menyempurnakan dirinya, kami memutuskan untuk mengasah dirinya dari segi pendidikan. Meningkatkan kualitas pendidikannya yang sebelumnya hanya tamatan STM hingga akhirnya tibalah hari ini. Malam, di mana esok ia, seorang pemuda yang dulunya merasa tidak akan pernah menggapai dunia, esok pagi akan berangkat menembus ketinggian puluhan ribu meter awan, untuk menuntaskan pelatihannya di benua yang sama sekali berbeda, Eropa, menjelajah negara yang sering ia perbincangkan sepanjang kompetisi akbar Piala Dunia, Jerman.

 

Guten Morgen, Engineer!

You might also like this

About the author
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit