Motif Nusantara

Indonesia adalah salah satu negara yang paling kaya akan motif tradisional yang bermakna filosofis dan nilai budaya yang tinggi. Beragam motif tradisional dapat kita temukan di berbagai media, seperti: ukiran kayu, elemen arsitektur, ukiran batu, bangunan, dan paling banyak dapat kita temukan di kain. Tergantung dari jenis kainnya, masing-masing motif dibuat dengan tingkat kerumitan yang berbeda-beda. Semakin rumit jenis motifnya, semakin lama pula proses pembuatannya.

 

Seorong dengan perkembangan jaman, motif tradisional berkembang untuk diaplikasikan ke media-media baru. Perkembangan dunia modern yang sudah tidak mengetahui cara menenun, membuat songket, atau batik, dapat membuat motif tradisional menjadi tidak lagi dikenali oleh masyarakat.

 

Paper Cutting

Cutteristic menggunakan teknik paper cutting atau mengukir kertas, untuk mengaplikasikan motif-motif kuno tradisional Indonesia yang selama ini kita temukan di kain, untuk diolah ke medium baru, yaitu kertas; yang dapat di kerjakan oleh masyarakat dimana saja hanyak dengan modal kertas dan cutter. Paper cutting adalah seni memotong kertas tradisional dari negeri tiongkok yang ditemukan di abad ke 6 masehi. Mereka menggunakan gunting dan kertas tipis berwarna merah untuk menghias dinding dan pintu.

 

Dewi Kucu, seorang Seniman Kertas dengan Cutter Pertama di Indonesia, melalui Cutteristic mengangkat kembali motif-motif kuno dari kain peninggalan abad ke 16 sampai ke 19 Masing-masing karya dipotong manual dengan cutter biasa di kertas, waktu pemotongan berkisar antara 3-40 jam tergantung tingkat kesulitan.

 

Filosofi Motif Kuno

Setiap motif berasal dari kain kuno yang dibuat selama abad 16-19, mempunyai makna yang membawa kebaikan bagi pemiliknya, seperti:

  1. Motif Tenun Pucuk Rebung dari Gayo, Aceh, melambangkan peningkatan dan pertumbuhan terus menerus
  2. Motif Batik Hokokai Bangau Kipas, Pekalongan melambangkan panjang umur dan kesuburan wanita
  3. Batik Gurdo/Garuda dari Keraton Surakarta sebagai lambang kuasa dan kekuatan
  4. Motif Subhanale dari Lombok Tengah yang berasal dari kata ‘Subhanallah’, melambangkan kebesaran Tuhan pencipta alam semesta.
  5. Motif Batik Parang Rusak Barong dari Yogyakarta, bermakna kebijaksanaan seorang pemimpin
  6. Motif Batik Madubrongto dari Keraton Surakarta, yang berarti manis madu sebagai doa kehidupan yang berjalan lancar dan berbuah manis seperti madu
  7. Motif Batik Lasem Burung Api dari Tuban, melambangkan keberuntungan calon pengantin wanita

 

Cutteristic memperkenalkan kembali motif-motif kuno Indonesia yang bermakna filosofis tinggi. Melalui pengenalan yang lebih dalam akan budaya leluhur kita, diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih mencintai, mengapresiasi dan melestarikan warisan budaya Indonesia dengan turut berkarya, membatik di kertas.

Related projects
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit