Cutteristic - HOME & Decor May 2014 00 Cutteristic in Home & Decor May 2014

 

Cutteristic - HOME & Decor May 2014 01

PERSPECTIVE art & craft l lifestyle l culinary

Paper Trail

KAMI MENELUSURI PERJALANAN BEBERAPA SENIMAN DI BALIK GERAKAN SENI PAPERCUT MODERN DAN MENGGALI KISAH BERSEJARAH DI BALIK KESENIAN KUNO INI.

 

Cutteristic - HOME & Decor May 2014 02

Berlawanan dengan hampir semua hal di era digital saat ini, para seniman papercut hanya mengandalkan gunting atau cutter dan keterampilan tangan mereka untuk menciptakan karya seni dengan memanfaatkan selembar kertas. Tidak ada penghapus, apalagi tombol undo saat mengerjakan sebuah papercut. Konsentrasi, waktu, dan kesabaran menjadi faktor yang sangat penting dalam pengerjaan papercut.

Tidak mengherankan apabila beberapa seniman papercut menyebut proses memotong kertas seperti sebuah terapi. Bagi Dewi Kucu, memotong kertas menjadi media bagi dirinya untuk bermeditasi. Sebagai seseorang dengan kepribadian yang sangat aktif, memotong kertas membuat Dewi harus duduk berjam-jam dan dengan tekun mengerjakan karyanya sehati-hati mungkin.

Unsur spiritual yang tampak kental mempengaruhi seni papercut yang berasal dari tradisi kuno dimana kertas menjadi medium untuk menyalurkan dedikasi religius. “Di India, papercut dipraktekkan oleh sekelompok kecil seniman yang telah menjadi pemelihara keterampilan dan pengetahuan ini dari generasi ke generasi berikutnya. Praktek ini menjadi perwujudan pengabdian mereka kepada dewa Hindu Krishna,” ungkap Emma van Leest. Seniman papercut yang berasal dari Melbourne, Australia ini menyatakan bahwa bagi dirinya proses memotong kertas menjadi perwujudan dedikasinya terhadap penciptaan sesuatu yang indah dari hal sehari-hari.

 

FOLK ART

Sejarah papercut diketahui berasal dari negeri Cina pada abad pertama sejak kertas pertama kali diciptakan. Bahkan, tradisi papercut telah dilakukan sebelum kertas mulai digunakan untuk menulis! Seni rakyat ini digunakan sebagai dekorasi khususnya pada hunian bangsawan serta simbol kebudayaan. Dalam kurun waktu 100 tahun berikutnya, papercut mulai berkembang dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Bovey Lee adalah seniman papercut keturunan Cina yang lahir dan besar di Hong Kong. Ia kemudian pindah ke Amerika Serikat di tahun 1993 sebagai seorang pelukis. Ia kini tinggal di Pennsylvania dan tetap aktif membuat karya seni papercut yang telah dipamerkan di museum-museum internasional. Bovey menyatakan kaligrafi Cina yang ia pelajari sejak berusia 10 tahun menjadi akar dari teknik memotong kertas yang ia gunakan. “Menyangkut seni, Anda tidak bisa memisahkan seniman dari kebudayaan dan latar belakang dirinya,” ujar Bovey.

Cutteristic - HOME & Decor May 2014 03

Melalui riset perjalanan cut paper yang telah ia lakukan di beberapa negara, Bovey mengatakan kebudayaan lokal memberikan pengaruh besar dalam ekspresi dan representasi papercut. “Di Cina, saya melihat gambar dan kisah seperti “Menangkap Ikan dan Udang”, “Perayaan Tahun Baru”, “Naga dan Phoenix”. Di Swiss, seniman menggambarkan kisah tentang membuat keju, memerah susu serta pemandangan danau, pegunungan dan perkotaan,” jelasnya.

Sedangkan di Indonesia, motif dan corak papercut yang kerap muncul dalam karya-karya seniman lokal adalah motif batik. Terlihat pada karya-karya Dewi Kucu yang kerap menggunakan aksen motif batik. Menurutnya, budaya dan seni tradisional menjadi pengaruh besar karena hal inilah yang paling dekat dan dikenal baik oleh seniman tersebut. “Mimpi saya adalah bagaimana seni tradisional Indonesia bisa diterjemahkan ke dalam bahasa papercut agar menjadi lebih kaya,” demikian harapan yang dilontarkan Dewi.

Mengeksplorasi budaya lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi Emma van Leest yang pernah mengunjungi Indonesia saat menghadiri pernikahan sahabatnya. Ia sempat singgah di beberapa kota di Indonesia, salah satunya Yogyakarta, dimana ia mengikuti workshop seorang dalang dan pembuat wayang kulit Pak Sagio. “Saya belajar mengenai tekniknya yang mengagumkan dan tradisi storytelling yang melatarbelakangi wayang kulit”, jelasnya.

Di Eropa, seni shadow puppetry yang mirip dengan wayang juga menjadi pengaruh besar bagi seniman asal Inggris, Sarah Dennis. “Saya terpukau dengan atmosfer pencahayaan dan kesederhanaan bentuk dan figur shadow puppetry,” ujarnya. Teater kertas yang sangat populer pada era Victoria juga menarik minatnya untuk mendalami medium kertas. “Teater kertas memiliki detail sangat rumit dengan layer-layer yang memberi kedalaman pada karya seni miniatur ini,” jelas Sarah.

Kisah-kisah dongeng rakyat Eropa klasik yang ditampilkan dalam karya papercut Sarah memperkuat bukti betapa dekatnya hubungan antara seni papercut dan kebudayaan lokal. Sebagian besar karya-karya Sarah menggambarkan dunia khayalan dengan karakter imajinatif seperti contohnya Cinderella dan Alice in Wonderland. Demikian juga halnya dengan Karen Bit Vejle dari Denmark. Wanita ini dikenal dengan karya papercut berskala besar yang kerap menampilkan gaya desain berciri khas tradisi papercut di Denmark dengan detail dekoratif bagaikan renda.

CUTTING EDGE

Mengikuti perkembangan dunia saat ini, seni papercut juga telah berevolusi dengan munculnya beragam improvasi teknik dan bentuk kontemporer baru. Seperti Sarah yang menggabungkan antara papercut dengan kolase, atau tema karya-karya Bovey yang termotivasi oleh isu-isu kritis yang menekankan hubungan destruktif antara manusia dan lingkungan pada abad ke-21 ini.

 

Cutteristic - HOME & Decor May 2014 04

Beberapa seniman mulai mengembangkan papercut menjadi seni sculptural yang mengundang decak kagum. Simak saja karya seniman asal Denmark, Peter Callesen. Menggunakan selembar kertas berukuran A4, ia menciptakan figur tiga dimensi dari siluet potongan kertas. “Ruang negatif dua dimensi yang hilang akibat potongan memberikan kontras menarik terhadap realitas tiga dimensi yang tercipta, meskipun figur yang ditampilkan masih menempel pada kertas tanpa ada kesempatan untuk membebaskan diri, hal ini menyiratkan sesuatu yang tragis dalam karya saya,” Peter menjelaskan.

Sedangkan seniman asal Jepang, Nahoko Kojima memilih menggunakan udara sebagai ruang negatif untuk karya papercut sculptural ciptaannya. Karya terbarunya Byaku menggambarkan seekor beruang salju yang sedang berlari menerjang air. Dengan sangat hati-hati, bagian-bagian dari Byaku digantung menggunakan benang transparan sehingga tampak melayang di udara. Detail rumit menjadi elemen tersembunyi pada Byaku yang hanya dapat Anda temukan saat melihat dari sudut tertentu, mulai dari bentuk ikan dan gelombang air hingga pantulan bayangan di lantai yang menampilkan motif pusaran yang diasosiasikan dengan refleksi air.

LIFE STORIES
Dari studio kreatifnya di kota London, Rob Ryan mengembangkan seni papercut dalam bentuk berbeda. Desain papercut ciptaan Rob diolah menjadi aksesori hunian handmade unik seperti screen print, mug, jam, kartu ucapan hingga koleksi ubin! Melalui studionya Ryantown, ia menunjukkan bagaimana seni dan kerajinan tangan dapat menjadi bisnis dengan prospek cerah.

Andil Rob dalam mempopulerkan seni papercut modern membuatnya menjadi salah satu tokoh yang disegani di dunia papercut. Karya Rob kerap menggambarkan tema kehidupan bernuansa nostalgia dan sentimental seperti kisah cinta atau rasa kesepian. Ia dikenal dengan detail yang sangat rumit pada setiap karyanya, yang mampu membuat orang berhenti untuk mengamati karya tersebut.

Refleksi kejadian kehidupan sehari-hari juga menjadi pengaruh besar bagi Kiko Ardiansjah yang mulai menekuni seni papercut sejak dua tahun lalu. Karyanya yang cukup menyentil adalah seri poster bergaya retro dengan tema “Vermak Hati”, yang merupakan respons dirinya atas hal-hal yang ia temukan di sosial media. “Saya sering melihat teman-teman yang galau setiap hari, mulai dari patah hati, susah move on, sampai serangan kode-kode modus,” jelasnya tertawa.

Meskipun masih terbilang baru di dunia papercut, pria ini menilai papercut sebagai seni yang akan berkembang di masa depan seiring dengan semakin banyaknya orang yang menyenangi sesuatu yang dibuat dengan tangan. “Kreasi tangan memberikan kesan tersendiri, baik untuk si pembuat maupun si penikmat,” tambahnya.

Di tengah deraan digitalisasi dunia saat ini, gerakan seni papercut kontemporer menjadi bukti bahwa fungsi kertas sebagai medium bercerita belumlah tergantikan. Melalui secarik kertas, para seniman papercut tetap setia menorehkan kisah mereka dengan menggebu-gebu bersenjatakan tangan kreatif mereka.

 

You might also like this

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit