Dewi Kucu adalah seniman kertas dengan cutter pertama Indonesia yang memulai Cutteristic sejak 2011

Omzet Bukan Target Saya

oleh: Annelis Brilian

Karya paper artist Dewi Kucu sangat berbeda dengan yang lain. Karena ia selalu membubuhkan filosofi bermuatan budaya Cina dan Indonesia. Di bawah label Cutteristic, ia menawarkan dekorasi atau cendera mata alternatif buatan tangan dari kertas dan cutter.

Paper art atau paper cutting adalah kesenian tradisional Cina yang sudah ada sejak kertas pertama kali ditemukan. Di sana, mereka menggunakan gunting kecil dan kertas roti tipis. Namun dalam membuat paper art, Dewi lebih memilih menggunakan cutter, agar bisa menjangkau area-area kecil. Inilah mengapa ia memilih nama Cutteristic pada usahanya, karena dalam membuat sesuatu yang artistik, ia memang selalu menggunakan cutter.
Awal ketertarikan Dewi pada seni paper art bermula ketika suatu hari dia melihat foto paper cuttingsederhana di salah satu majalah, yang bentuknya mirip kartu ucapan Natal. Dari situlah, Dewi berpikir untuk mencoba membuatnya sendiri. Ia mencobanya dari gambar yang sederhana seperti tokoh kartun.
Ketika itu Dewi juga masih bekerja di sebuah perusahaan interior besar. Ia pun memanfaatkan kertas-kertas bekas katalog di kantornya untuk membuat paper cutting. Di karya kedua, ia mulai mencoba memakai cutter. Ternyata hasilnya jauh lebih rapih dan lebih cepat daripada menggunakan gunting. Di karya ketiga, Dewi mulai membuat paper cutting yang lebih detail dengan banyak lekukan. Semua kegiatannya itu ia lakukan hanya di kala waktu senggang saja.
Sejak kecil, Dewi memang sudah menyukai bidang keterampilan. Saat isu daur ulang mulai marak, ia sudah mengumpulkan kardus bekas, tali rami, dan bahan lain. Dari benda-benda itu ia berusaha membuat sesuatu, seperti tempat tisu, tempat cotton bud, dan gelang. Selain itu ia juga suka menggambar, menyulam, dan merajut.
Dewi mengaku hobinya membuat keterampilan menurun dari ibunya, yang juga sangat suka membuat keterampilan. Namun lucunya, ketika ia mulai membuat paper art, Ibunya protes karena membuat rumahnya menjadi berantakan dengan sampah-sampah kertas. Tapi sekarang, sang ibu justru senang dengan pekerjaannya, karena dengan karyanya ini nama Dewi Kucu jadi dikenal sebagai seorangpaper artist.
Menjadikan karya paper art sebagai bisnis, bermula dari niat Dewi yang ingin memberikan kado untuk keponakannya yang berulang tahun atau temannya yang menikah, berupa karya paper artbuatannya. Ternyata dari situ, mulai banyak yang memesan paper art padanya. Mungkin kado itu dinilai unik dan personal. Orang-orang yang memesan karyanya, lalu memberitahukan ke teman-temanya yang lain. Promosi dari mulut ke mulut pun berlangsung, hingga makin banyak orang yang mengenal karyanya. Selain menerima beberapa pesanan dari teman dan saudaranya, Dewi juga rajin mengikuti pameran dan bazar kecil. Setelah itu ia mulai merambah bisnis online dengan membuat website www.cutteristic.com.
Setelah membuat website, Dewi pun semakin gencar mempromosikan usahanya.  Suatu hari, ia iseng me-mention foto karyanya ke akun twitter beberapa majalah interior. Ternyata ada salah satu majalah yang meresponsnya dengan sangat bagus, dan langsung mengajaknya kerja sama. Setelah itu, pesanan yang diterimanya pun mengalir semakin deras.
Dalam membuat pesanan karya paper art, Dewi memang hanya menggunakan cutter dan kertas art paper. Namun ia masih juga menggunakan bahan kertas bekas, bila karyanya itu hanya untuk dijadikan koleksi pribadi. Cutter yang ia gunakan pun juga cutter biasa yang banyak dijual di pasaran. Hanya saja, cutter yang dimilikinya memiliki bantalan di area telunjuk, karena intensitas tekanan di area itu cukup tinggi, dan untuk mencegah jarinya kapalan. Pasalnya, untuk membuat satu area kecil saja dalam paper art, ia butuh waktu tiga jam, dan mengerjakannya harus serapih mungkin, sebab kalau ada yang salah tidak bisa dibenarkan lagi.
Cutter bagi Dewi memang bukan sekedar benda biasa. Benda ini sudah diibaratkannya seperti pensil yang bisa digunakan untuk menulis, menggambar, membuat lekukan, dan lain-lain. Ia juga tidak memakai cutting map, karena dengan hanya menggunakan kertas bekas saja, akan lebih sederhana dan efisien. Saat mencetak pola pun ia juga memakai kertas bekas. Singkatnya, seluruh peralatan yang digunakanya dalam membuat paper art sangat sederhana.
Dewi menganggap paper art laiknya sebuah lukisan. Jadi orang yang membeli karyanya itu karena dia sendiri yang mengerjakannya. Itulah mengapa, meski usahanya sudah makin berkembang, ia tidak terpikir untuk merekrut pegawai. Dewi mengibaratkan, banyak orang yang bisa melukis, tapi pilihan pembeli kadang hanya pada satu karya saja. Dari situ pembeli pun bisa penasaran siapa tangan di balik karya lukis itu. Seperti itulah maknanya, bila Dewi memberikan ke orang lain untuk mengerjakanpaper art pesanan klien-nya. Ia seperti memberikannya kepada sebuah mesin.
Tidak ada target omzet khusus untuk usaha yang dijalankan Dewi saat ini.  Ia hanya berusaha, agar setiap hari bisa mengerjakan karya paper art dengan baik. Ia melakukannya sendiri mulai dari mendesain maupun memotong. Namun tidak semua karya yang dibuatnya untuk memenuhi pesanan klien. Karena ada juga karyanya yang tidak untuk dijual, tapi untuk koleksi pribadi.
Dewi memang menjual keunikan dan nilai personal untuk karyanya. Jadi sebisa mungkin ia jarang memproduksi secara masal. Setiap karya yang dibuat, ia hanya membatasi satu hingga dua buah saja per desain. Namun bila ada yang memesan satu desain dalam jumlah yang banyak, barulah Dewi menggunakan mesin untuk pengerjaannya. Misalnya untuk memenuhi permintaan pembuatan souvenir suatu perusahaan.
Ketika membuat sebuah karya paper art, Dewi senang menyelipkan unsur-unsur budaya Indonesia, khususnya batik. Memang sebagian besar karyanya yang ada unsur budaya itu, hanyalah sebuah karya idealis yang hanya diperuntukkan bagi diri sendiri. Namun ketika menerima pesanan, Dewi pun selalu mencari cara agar tetap bisa memberikan unsur budaya.
Keindahan yang tersaji pada motif batik Indonesia memang menjadi inspirasi Dewi dalam berkarya. Ia pun selalu mencari nilai sejarah dari kain batik, seperti batik Megamendung, batik Tegal Parang, batik Sekarjagat, dan lainnya. Setiap karakter batik-batik itu kemudian ia sesuaikan dengan profil pemesan karyanya.
Dari sekian banyak motif batik, Dewi mengaku paling menyukai motif batik Megamendung, karena yang paling dirasa cocok dengan image Cutteristic. Dalam motif batik Megamendung ada unsur kebuayaan asli Cina, meskipun lahir di Indonesia. Selain itu motif itu juga melambangkan kesuburan, yang bisa berarti juga harapan kelancaran untuk sebuah usaha. Dewi pun menggunakan motif ini pada kartu namanya. Selanjutnya, ia tertarik juga ingin mendalami batik motif khas Kalimantan.
Pada website Cutteristic, terdapat tagline ‘passion and obsession’. Menurut Dewi, kata ‘passion’ berarti semangat. Di mana saat ia sedang memotong-motong kertas, meski kecil dan detail, itu bisa menjadi semacam pelepas stres untuknya. Jadi ada kontradiksi antara dirinya yang dituntut harus serba cepat, tapi tetap bisa mengerjakan hal detail yang rumit sekalipun. Di situlah ia perlu passion.
Sementara ‘obsession’ bermakna tentang bagaimana caranya ia bisa membuat orang bisa menghargai karya seni melalui metode yang telah ia modernkan. Jadi, orang bisa melihat batik bukan sebagai barang kuno. Batik juga tidak selalu dicanting, karena yang ia lakukan sebetulnya juga bisa disebut dengan membatik, hanya saja dengan menggunakan cutter.
Dari sekian banyak karya yang pernah ia hasilkan, Dewi amat terkesan dengan karyanya yang pernah dibuat berukuran 1×1 meter, yang berisi foto suami istri pengusaha di Indonesia. Saat menerima pesanan, pengusaha itu hanya mengirimkan foto berukuran 17 kilobyte. Tentu saja itu menjadi tantangan baginya, karena ia harus membuat wajah yang detail, dan pasangan suami-istri itu juga bukan figur yang mudah dicari di internet. Namun pekerjaan itu sudah menjadi resikonya. Ia sudah dipercaya dan dibayar, maka harus mampu memuaskan pelanggannya. Karya lain yang paling berkesan baginya adalah gambar pengantin Cina berukuran 80×80 cm yang hanya untuk koleksi sendiri.
Melihat karya dan idealismenya, Dewi bisa dibilang juga sebagai seorang seniman. Menurut Dewi, seniman sebaiknya jangan selalu mengharapkan untung, karena bila demikian misi utamanya untuk menyampaikan karya seni bisa hilang. Dewi sendiri mengaku hanya mau membuat apa yang ada di kepalanya saja. Ia sering membuat sesuatu hanya karena semata-mata suka dan sama sekali tidak memikirkan, apakah ada yang beli atau tidak.
Ia pun tak ragu pula untuk terus berinovasi dan mencoba. Tidak perlu berusaha menciptakan karya yang luar biasa, karena yang terpenting adalah kemauannya  untuk meluangkan waktu dan usaha untuk mencoba, mengaplikasikan dan menginovasikan sesuai dengan apa yang dianggap nyaman untuknya.

 

You might also like this

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit