INDUSTRI KREATIF

Oleh Dinda Audriene Muthmainah, Rani Nossar, Tri Sulistiowati, Yuthi Fatimah – Senin, 16 Maret 2015 | 16:10 WIB

 

Cutteristic - Kontan 16 Maret 2015 Peluang dari Karya Potongan Kertas

Seni potong kertas atau dikenal dengan sebutan paper cutting art sudah eksis sejak dulu. Di Indonesia, seni potong kertas asal negeri China ini dikombinasikan dengan berbagai elemen budaya kekayaan budaya lokal. Salah satunya adalah dengan motif batik atau inspirasi dari berbagai elemen budaya Indonesia lainnya

 

Beberapa seniman kertas lokal, sebutan dari perajin produk seni potong kertas ini juga mengkreasikan kertas-kertas dalam bentuk realis seperti bentuk wajah, binatang dan lainnya.Bentuknya yang unik serta pembuatannya yang membutuhkan kemampuan menggambar dan memotong membuat karya seni ini mulai diminati masyarakat.
Umumnya hasil karya seni potong kertas di Indonesia digunakan sebagai suvenir untuk berbagai momen spesial seperti pernikahan, anniversary atau pun untuk hiasan dinding. Peminatnya sebagian besar dari kalangan menengah ke atas karena harganya yang cukup tinggi. Terang saja, pembuatan karya seni potong kertas ini cukup rumit.
Salah satu seniman kertas ini adalah Dewi Kucu, pemilik usaha Cutteristic di Jakarta. Wanita ini suka menggabungkan seni dekoratif China dengan kekayaan budaya Indonesia seperti batik. Dia memiliki misi untuk melestarikan budaya tradisional Indonesia ke media baru di atas kertas dengan seni paper cutting. Hasil karya ini lantas dipajang di dalam pigura. “Dengan begitu, bisa lebih menjangkau generasi anak muda untuk bisa bisa melestarikan budaya lokal melalui media kertas ini,” kata dia.
Evita, seniman kertas lewat merek usaha Paper Project bilang, keterampilan potong kertas ini masih belum banyak diminati dan diketahui banyak orang. Sehingga, potensi usahanya masih bagus. Menurutnya, butuh waktu beberapa tahun ke depan untuk memperkenalkan seni potong kertas ini kepada masyarakat.
Agar tampak berbeda dan unik, Evita banyak membuat desain hewan yang diletakkan di dalam liontin atau gantungan. Umumnya desainnya terinspirasi dari hasil karya artis paper cutting lainnya dan dari lingkungan sekitarnya. Banyak juga para pelanggannya yang meminta desain khusus. “Saya gunakan jenis kertas acid free agar kertas tidak menguning meski disimpan dalam waktu lama,” kata Evita.

 

Dijadikan hadiah

Untuk menyelesaikan satu pesanan Evita membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Sehingga dalam sebulan dia bisa menyelesaikan sekitar empat produk hingga lima produk. Harga jualnya berkisar Rp 350.000–Rp 400.000 per produk di dalam pigura. Sedangkan untuk model pendants dihargai sekitar Rp 100.000 per unit. Dalam sebulan, Evita bisa mengantongi omzet jutaan rupiah.
Adapun, Tri Wahyuni, pemilik usaha Papercrop bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Harga jual produknya berkisar Rp 200.000−Rp 800.000 per unit. Rata-rata pelanggannya memesan karya paper cutting untuk dijadikan hadiah ulang tahun, hadiah pernikahan, suvenir pernikahan, dan lainnya.
Karya-karya Wahyuni memiliki ciri khas gambar realis seperti wajah manusia, tumbuhan, atau hewan. Selain membuat karya dengan kertas di dalam bingkai, Wahyuni juga membuat paper flower, bunga tiga dimensi yang terbuat dari kertas.
Sebagian besar permintaan yang datang meminta ukuran produk seukuran kertas A4. Proses pengerjaannya cukup cepat. Tri mengaku hanya membutuhkan waktu sehari untuk membuat satu karya ukuran kertas A4. Sebelum melakukan proses pemotongan biasanya dia menyerahkan draf rancangan terlebih dahulu kepada pelanggannya. Tujuannya, untuk memastikan desain sesuai dengan pesanan. “Konsumen yang datang dari kelas menengah ke atas yang berada di sekitar Jabodetabek dan Surabaya,” ujar Tri.
Widya Rahayu, pemilik WR Papar Cut asal Depok menambahkan, proses membuat karya ini membutuhkan keseriusan dan ketelitian. Cara membuatnya diawali dengan membuat gambar sendiri atau mencari gambar melalui internet. Lalu, dicetak di atas kertas HVS dan di tumpuk di atas karton linen. Setelah itu, gambar siap di potong menggunakan cutter atau pen cutter agar lebih mudah memotong bagian-bagian yang terkecil.
Hasil karyanya mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 450.000 per unit. Widya mengaku, keuntungan usaha ini cukup besar, yakni mencapai 50%−60% karena modal yang minim.
Ke depannya, Widya berencana membuat karya paper cutting dalam bentuk tiga dimensi (3D) yakni dalam satu pigura akan berisi beberapa lapisan karya paper cutting. Umumnya para seniman potong kertas ini berpromosi di berbagai media sosial untuk menggaet konsumen seperti Instagram dan Facebook.
Editor: Rizki Caturini

You might also like this

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit