Dewi Kucu adalah seniman kertas dengan cutter pertama Indonesia yang memulai Cutteristic sejak 2011

Jawa Pos, 23 April 2014, page 9

Berkreasi dengan Kertas & Cutter

Kenalkan Teknik Cutteristic

Teknik paper cutting awalnya merupakan seni tradisional yang berasal dari Tiongkok. Peralatan yang digunakan adalah gunting dan kertas roti tipis sebagai pelapis. Dewi Kucu berupaya mengembangkan teknik serupa, namun dengan ”senjata” cutter. Karena itu, dia menamainya cutteristic.

Cutteristic - Jawa Pos 23 April-8

Melihat foto paper cutting di sebuah majalah yang menyerupai kartu Natal, Dewi mencoba membuat sendiri. Dia memanfaatkan kertas-kertas bekas katalog di kantornya ketika itu untuk membuat paper cutting sederhama. Motif awalnya tokoh kartun dengan menggunakan gunting. Pada percobaan kedua, Dewi menggunakan cutter. “Ternyata hasilnya lebih rapi dibandingkan pakai gunting,” ujar perempuan kelahiran 12 Mei 1985 itu.

Dewi pun makin ketagihan berkreasi dengan cutter. Pola yang dibuat makin detail dengan banyak lekukan. Alat yang diperlukan sangat simpel. Cukup cutter dan kertas. “Cutter-nya cutter biasa yang dijual di tooko alat tulis,” ucapnya. Hanya, dia menambahkan bantalan di area telunjuk agar tidak sakit karena intensitas tekanan yang tinggi pada bagian tersebut.

Di awal-awal, Dewi membutuhkan waktu 10 jam untuk membuat karya batik. Pengerjaannya memang sangat detail dan harus berhati-hati. “Syaratnya harus telaten. Lama-lama semakin terbiasa dan cepat mengerjakannya,” ujarnya. Alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara itu pun sudah terbiasa bekerja dengan cutter saat mengerjakan tugas kuliah.

Dewi berbagi tip untuk berkreasi dengan paper cutting. Setelah gambar pola siap, dia mengerjakannya dari sisi kertas bagian belakang. Ikuti polanya, bagian-bagian mana yang harus dipiting. “Gunanya memotong dari sisi baliknya supaya hasilnya rapi. Karena biasanya ada sisa atau bekas potongan kertas”, terang perempuan berambut lurus itu. Dia juga tidak menggunakan cutting mat. Dia lebih suka memanfaatkan kertas bekas sebagai alas.

Sebelum menekuni paper cutting, Dewi memang menyukai berbagai aktivitas yang menggunakan keterampilan tangan. Mulai clay, menjahit, merajut, hingga membuat berbagai benda dari bahan daur ulang. Karena melihat belum banyak yang berkreasi dengan paper cutting, Dewi akhirnya memilih intens bermain-main dengan kertas dan cutter.

Nama Cutteristis tercetus sejak 2011. Lewat website dan blognya, Dewi membagikan contoh-contoh karya yang dibuat, apa itu paper cutting, bagaimana tekniknya, serta tip-tip bagi yang ingin mencobA membuat paper cutting sendiri. “Sama halna dengan membatik, namun ini tidak menggunakan canting, melainkan dengan cutter,” lanjutnya.

Karya paper cutting bisa dijadikan hadiah istimewa untuk orang-orang terdekat, seperti ketika Dewi ingin memberikan kado untuk keponakan. Bisa juga dijadikan dekorasi rumah. Dia juga pernah mendekorasi ruangan gereja dengan karya paper cuting-nya saat Natal.

Tidak sedikit yang memesan paper cutting untuk momen-momen spesial, seperti ulang tahun, pernikahan, anniversary, dan banyak yang lainnya. Namun, perempuan mungil itu membatasi agar karyanya tidak menjadi bisnis masal. “Saya tetap ingin Cutteristic menjadi karya seni. Yang setiap karyanya memiliki karakteristik tersendiri,” ujar penyuka hijau dan merah tersebut. Dia pernah membuat karya dalam ukuran besar, sekitar 1,37 meter. Dewi juga mengembangkan 3D paper cutting serta mengombinasikan karyanya dengan Swarovski. (nor/c6/ayi)

Dewi & Hobi

  • Punya delapan cutter dengan warna berbeda. Yang sering dipakai yang nyaman. Salah satunya cutter biru muda.
  • Lebih suka mengerjakan paper cutting saat malam
  • Menggunakan kertas lokal “Produksi kertas lokal kualitasnya sudah bagus”.

 

Cutteristic - Jawa Pos 23 April-8b

Favoritkan Motif Batik Kawung

Dewi menuturkan, teknik paper cutting sudah ada di Tiongkok sejak abad keenam. Awalnya, awalnya teknik tersebut digunakan untuk dekorasi arsitektur, kemudian berkembang menjadi seni dekoratif. Sekitar abad ke-12 sampai ke-13, paper cutting makin populer di negara asalnya, lalu menyebar ke Timur Tengah dan Eropa pada abad ke-14. Dewi ingin memadukan seni dekoratif Tiongkok dengan kekayaan budaya Indonesia.

Contohnya, dia suka menggunakan motif batik dalam karyanya. Salah satu karya favoritnya adalah paper cutting Kuda Singasari. Yang membuatnya istimewa, bila diperhatikan, detailnya menampilkan motif batik kawung yang diambil dari arca Ganesha. Melambangkan kecerdasan, pengetahuan, dan pelindung seni. “Desain paper cutting bisa sangat rumit atau sederhana, bergantung pembuatnya,” ujar Dewi.

Dia sangat senang apabila ada yang ingin mempelajari paper cutting. Sejak setahun lalu Dewi kerap memberikan workshop. Pesertanya mulai pelajar SD, SMP, SMA, hingga orang-orang yang tertarik dengan seni memotong kertas tersebut. “Sekarang makin banyak yang tertarik dan mau belajar, terutama anak-anak dan remaja,” tuturnya saar ditemui setelah melalukan presentasi karya bersama para muridnya di @america, Pacific Place, beberapa waktu lalu.

Saat pameran tersebut, hasil karya anak didik Dewi turut dipajang. Ada yang berdesain simpel, ada jga yang cukup rumit. “Sebenarnya setiap orang bisa membuatnya. Yang membuat hasilnya berbeda adalah passion & ketelatenan,” ujarnya. Berawal dari hobi, Dewi bisa berbagi ilmu sekaligus melestarikan budaya. (nor/c17/ayi)

 

You might also like this

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit